Tampilkan postingan dengan label Habitat Anoa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habitat Anoa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Mei 2010

Anoa (Bubalus spp.) Food Plants in Tanjung Peropa Wildlife Reserve, Southeast Sulawesi

Abdul Haris Mustari

Department of Forest Resources Conservation, Faculty of Forestry,
Bogor Agricultural University, Indonesia
(haris.anoa@yahoo.com)


SUMMARY

A total of 46 species of anoa food plants (leaves and shoots) and two species of fruits that were known to be eaten by the animals in their natural habitat were analyzed using Proximate analysis. Browsing signs of the animals on these plants were observed in the forests, indicating that these food plants were potentially eaten by the animals in the natural habitats. Some of the analysed food plants, such as Merremia peltata, Physalis minima, and bamboos (Schizostachyum lima and cf Schizostachyum brachycladum), were also identified microscopically as the predominant food plants in the diets of the animals.

Percentages of the nutrients in the food plants varied considerably. Percent of crude protein was 5.58 -21.60 (mean 12.70; SD 4.34), while percent of crude fibre varied from 14.68 to 62.68 (mean 36.93; SD 12.07). Percentage of ether extract in the food plants was 0.91-11.5 (mean 2.38; SD 1.75). Percent of nitrogen-free extractives ranges between 0.76 and 52.31 (mean 24.64; SD 15.20), while gross energy of the food plants was 2419-3583 cal/g (mean 3093; SD 282.82). The majority (65%) of the food plants have a percentage of crude protein above 10%.

Merremia peltata, Physalis minima, and bamboos (Schizostachyum lima and cf Schizostachyum brachycladum), which were among the predominant food plants of anoa in Kalobo-Tanjung Peropa WR, did not differ significantly in percentages of their nutritional contents, except that Physalis minima contained a comparatively high proportion of crude protein (20.04%). Merremia which composed about one-third of the proportion of the diets of the animals, has only 11.66% of crude protein and the bamboos Schizostachyum lima and cf Schizostachyum brachycladum had even lower crude protein contents, 10.44% and 6.06% respectively. These bamboos have a high content of crude fibre, 37.54% and 43.07% respectively.

Other inferred food plants that have relatively high percentages of crude protein included Trema orientalis (21.60%), Acalypha boehmerioides (19.82%), and cf Micromelon minutum (19.38%), yet they were not found in the analyzed faecal samples of the animals. Sonneratia alba, a mangrove species, was frequently browsed by lowland anoa in Amolengo and showed the highest percentage of nitrogen-free extractives (52.31%) among the food plants, yet its crude protein content (10.45%) did not significantly differ from those of other food-plant species.

Crude protein and crude fibre contents of the fruits of Diospyros pilosanthera and Eugenia sp. are lower than those of their leaves and shoots, yet higher nitrogen-free-extractives and gross energy suggest that these fruits have higher digestibility and the animals could get instant energy by consuming the fruits.

Rabu, 18 November 2009

Karakteristik Habitat Anoa

Abdul Haris Mustari
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB, Kampus IPB Dramaga, Bogor.Email:haris.anoa@yahoo.com

Anoa sangat peka akan gangguan manusia. Gangguan yang sedikit saja terhadap habitatnya menyebabkan satwa ini menghindar mencari tempat yang lebih aman. Karena itu anoa mendiami habitat yang jauh dari pemukiman dan aktivitas manusia, dan itu adalah hutan yang memiliki aksesibilitas rendah. Anoa cenderung menghindari kontak langsung dengan manusia dan segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas manusia seperti adanya ternak sapi atau kerbau. Kecuali pada beberapa kawasan hutan dimana anoa tidak punya pilihan untuk menghindar karena habitatnya terisolir, anoa dapat saja mendatangi areal perkebunan yang berbatasan dengan hutan atau kawasan konservasi.

Seiring pertambahan penduduk dan terbukanya akses oleh berbagai kegiatan seperti pemukiman, transmigrasi, perkebunan dan pertambangan, habitat anoa yang dahulunya sulit terjangkau, aksesnya semakin terbuka, akibatnya habitat satwa ini semakin berkurang dan terkotak-kotak yang pada akhirnya menyebabkan populasinya menurun. Banyak kawasan hutan yang dahulunya dikenal sebagai habitat anoa tidak lagi dijumpai satwa tersebut seperti yang terjadi di CA Tangkoko Batuangus di Bitung Sulawesi Utara, anoa punah secara lokal. Habitat anoa terfragmentasi, populasi kecil terisolir sehingga diantara individu tidak terjadi perkawinan dan pertukaran genetik yang pada gilirannya akan membawa masalah serius inbreeding, perkawinan antar kerabat dekat yang mana akan menyebabkan terjadinya erosi genetik seperti yang terjadi pada kawasan hutan yang relatif sempit misalnya SM Tanjung Amolengo dan CA Lamedai di Sulawesi Tenggara dan banyak kawasan hutan lainnya yang dihuni anoa telah terfragmentasi seperti ini.

Sebagai ungulata penghuni hutan sejati, anoa membutuhkan tempat mencari makan, minum, berlindung serta melakukan interaksi sosial berupa hutan primer yaitu hutan yang belum terjamah manusia; mulai dari hutan pantai, hutan rawa, hutan dataran rendah, dan hutan pegunungan. Semakin jauh kawasan hutan dari lingkungan manusia semakin disukai anoa sebagai habitat. Hal ini terkait dengan naluri dasar anoa sebagai satwa yang sangat peka yang telah beradaptasi selama jutaan tahun di hutan alam Sulawesi, jauh sebelum manusia pertama menginjakkan kaki di pulau ini. Secara umum anoa dataran rendah ditemukan mulai dari hutan pantai sampai hutan pada ketinggian sekitar 1000 m dpl, dengan kisaran suhu udara harian 22-27 derajat celcius. Anoa dataran rendah menyukai hutan di sepanjang aliran sungai yang disebut hutan riparian. Demikian pula hutan bambu sangat disukai anoa. Sedangkan hutan dengan karakteristik berbatu dan bertebing curam dimana banyak terdapat formasi gua bebatuan limestone juga dapat dijadikan anoa sebagai habitat, namun dengan tingkat okupansi yang lebih rendah.