Rabu, 14 Desember 2011

Suaka Margasatwa Tanjung Peropa Sulawesi Tenggara

Suaka Margasatwa Tanjung Peropa seluas 38927 ha merupakan salah satu habitat penting Anoa di Sulawesi Tenggara dengan populasi sekitar 300-350 ekor. Kawasan konservasi ini mencakup beberapa tipe habitat mulai dari hutan mangrove, hutan pantai, hutan riparian, dan hutan dataran rendah dengan karakeristik utama batu kapur dan karst. Ketinggian habitat bervariasi 0-1000 m dpl. Selain anoa, satwa lain yang terdapat di SM Tanjung Peropa yaitu babi kutil Sulawesi (Sus celebensis), rusa (Rusa timorensis macassaricus), kuskus beruang (Ailurops ursinus), kuskus kerdil Sulawesi (Strigocuscus celebensis), rangkong (Rhyticeros cassidix), kara-kara (Penelopides exarhatus), maleo (Macrocephalon maleo). Berbagai jenis tumbuhan dapat dijumpai di kawasan konservasi ini, seperti bitti/laban/ (Vitec cofasus), kalaero (Diospyros malabarica dan D. pilosanthera), bayam (Intsia bijuga), pangi (Pangium edule), dlsb.
Kawasan konservasi ini tidak lepas dari berbagai tekanan, terutama pembalakan liar serta perambahan.

Selasa, 29 Maret 2011

Beberapa Spesies Kunci untuk Konservasi di Sulawesi

Oleh

Abdul Haris Mustari
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan IPB (haris.anoa@yahoo.com)


Terletak diantara pengaruh Zoogeografi Oriental di bagian barat (Sundaic) dan Zoogeografi Australia di sebelah timur (Papuan) Indonesia, kawasan Wallacea memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi termasuk berbagai jenis flora dan fauna endemik. Bio-region Wallacea pertama kali dicetuskan dan kemudian dipopulerkan oleh seorang pengelana alam naturalist Inggris, Alfred Russel Wallace, pada tahun 1856 yang berdasarkan pengamatannya bahwa kawasan ini memiliki jenis satwa dan tumbuhan yang berbeda dengan yang ada di bagian barat dan timur nusantara. Jenis satwa dan tumbuhan yang ada merupakan perpaduan wilayah barat dan timur, namun jenis yang dijumpai berbeda dengan jenis-jenis di wilayah penyebaran leluhurnya karena berbagai jenis satwa dan tumbuhan tersebut telah mengalami isolasi genetik dalam waktu evolusi yang sangat lama sehingga muncul spesies-spesies baru (spesiasi).
Sulawesi merupakan pulau terbesar di bio-region Wallacea, memiliki peran yang sangat penting dalam hal pelestarian keanekaragaman hayati khususnya berbagai jenis satwa dan tumbuhan langka dan endemik. Beberapa satwa endemik Sulawesi diantaranya anoa dataran rendah Bubalus depressicornis, anoa gunung B. quarlesi, babirusa Babyrousa babyrussa, dan babi hutan Sulawesi Sus celebensis. Anoa dan babirusa telah menjadi maskot fauna dan flagship species konservasi di Sulawesi, bahkan kedua spesies tersebut hampir identik dengan pulau itu karena dengan menyebut kedua jenis satwa tersebut, ingatan akan tertuju ke pulau yang terletak di bagian timur Indonesia itu. Anoa dan babirusa tercatat dalam Appendix I CITES dan telah dilindungi undang-undang sejak 1931. Kedua spesies anoa tersebut dikategorikan endangered dan babirusa dikategorikan vulnerable oleh IUCN Red List. Babi hutan Sulawesi, meskipun statusnya belum dilindungi, namun penyebarannya terbatas di Sulawesi dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, sehingga harus dijaga kelestariannya agar tetap menjadi agen penting penyebaran berbagai jenis biji tumbuhan hutan yang menjamin terjadinya regenerasi hutan yang sehat di Sulawesi.
Selain jenis satwa berkuku, ungulata seperti tersebut di atas, Sulawesi merupakan habitat alam kuskus beruang Ailurops ursinus, kuskus Sulawesi Strigocuscus celebensis, dan musang Sulawesi Macrogalidia musschenbroekii. Pulau ini juga dihuni oleh sedikitnya delapan jenis monyet yaitu monyet dare Macaca maura, monyet boti M. tonkeana, monyet dige M. hecki, monyet dihe M. nigrescens, monyet yaki M. nigra, monyet butung M. ochreata, monyet buton M. brunnescens, dan monyet fonti M. togeanus.
Selain mamalia, terdapat jenis burung dari suku Megapodidae yaitu maleo, Macrocephalon maleo, memiliki ukuran telur hampir lima kali lebih besar dari ukuran telur ayam kampung. Sulawesi juga merupakan habitat berbagai jenis burung langka paruh bengkok yaitu kakatua jambul kuning Cacatua sulphurea. Hutan hujan tropis Sulawesi juga menjadi habitat penting bagi dua jenis burung dari suku Bucerotidae yaitu julang Sulawesi Aceros cassidix dan kangkareng Sulawesi Penelopides exarhatus. Untuk jenis burung pemangsa puncak (raptor) terdapat elang Sulawesi Spizaetus lanceolatus yang memperkaya khasanah keanekaragaman hayati pulau tersebut.
Selain kaya berbagai jenis satwa, Sulawesi juga memiliki keanekaragaman tumbuhan yang tinggi diantaranya yang paling dikenal adalah kayu hitam Sulawesi atau eboni Diospyros celebica. Kayu eboni memiliki kelas kuat dan kelas awet satu, corak dan warna kayu terasnya yang khas, hitam kecoklatan bergaris, sangat disukai oleh konsumen baik untuk furniture maupun untuk ukiran, menjadikan eboni sebagai salah satu jenis kayu mewah fancy wood yang dimiliki Indonesia. Karena termasuk kayu mewah, eboni banyak dicari dan diperdagangkan sehingga memicu terjadinya penebangan liar yang menyebabkan kayu ini semakin langka di habitat alaminya.

Jumat, 25 Maret 2011

POPULATION DENSITY AND DISTRIBUTION OF LOWLAND ANOA (Bubalus depressicornis) IN SE SULAWESI, INDONESIA

Abdul Haris Mustari

Depatment of Forestry Resources Conservation, Faculty of Forestry
Bogor Agricultural University PO Box 168 Bogor 16001, Indonesia
Email:haris.anoa@yahoo.com

Anoa or dwarf buffalo is endemic to the Island of Sulawesi, Indonesia. The field study was conducted in Tanjung Peropa (38,927 ha) and Tanjung Amolengo (604 ha) Wildlife Reserves, situated in the very remote areas in the south-eastern tip of the mainland of Southeast Sulawesi in the period of 2000 and 2002. Population of the lowland anoa were estimated using the Line Transect Method and Program DISTANCE 4 was applied to estimate density. A total of 20 and 10 sightings of anoas were made during the 372 and 124.3 km of transects walked in Tanjung Peropa and Tanjung Amolengo reserves, respectively. Since the encounters totalled fewer than 40 observations, for analyses, the data were pooled and population density was calculated based on the pooled data, resulting in an estimated density of 1.3 anoas/km2 in Tanjung Peropa and 1.1 anoas/km2 in Tanjung Amolengo. Based on these data, populations of lowland anoa these reserves were estimated to be 506 individuals and 7 individuals in Tanjung Peropa and Tanjung Amolengo respectively. For indirect observations, densities of the dung of the animals were used to determine habitat occupancy in each of the habitat types occupied by lowland anoas, which were shown to include riverine, bamboo, lowland and rocky-lowland forest, and forests at higher altitude up to 900 m asl in Tanjung Peropa and mangrove, beach and lowland forests in Tanjung Amolengo, indicating that lowland anoas occupy a wide range of habitats (indeed, they occur in all the natural forested habitats studied). They could be found in the mangrove forest during low tides and they could also be observed in the mountainous forests at the peak of the reserve. This study revealed that habitat occupancies of the anoas were slightly higher in the riverine, bamboo and lowland forests than in the rocky-lowland forest in Tanjung Peropa whereas the animals spent most of their time in the beach forest in Tanjung Amolengo. The lowland anoas significantly avoid forests near to settlement and road. Anoa are water-dependent animals; they need water every day for drinking and they frequently visited water holes and wallowing sites. Distribution of anoa is weakly but significantly associated with water sources during the dry season.

Kamis, 24 Maret 2011

Ekologi dan Konservasi Babirusa (Babyrousa babyrussa)

Oleh Abdul Haris Mustari
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan
Fakultas Kehutanan IPB (haris.anoa@yahoo.com)

Taksonomi

Babirusa termasuk ke dalam famili Suidae dan salah satu anggota famili yang tertua diwakili oleh subfamily Babyrousinae yang dipisahkan dari warthog cabang dari famili Suidae (Subfamilii Phacochoerini selama zaman Oligocene atau awal Miocene. Babirusa hanya ada satu spesies dalam sub-famili babyrousinae (Ordo Artiodactyla, Sub Ordo Suiformes, famili Suidae). Hasil studi menunjukkan bahwa terdapat tiga sub spesies (Groves 1980) atau tiga spesies (Groves and Meijaard 2002) babirusa yang dapat dibedakan berdasarkan geografi, ukuran tubuh, jumlah rambut pada tubuh dan bentuk dari gigi taring pada jantan. Menurut Groves (1980), terdapat empat subspesies babirusa yaitu Babyrousa babyrussa babyrussa terdapat di Pulau Buru, Babyrousa babyrussa celebensis menghuni daratan utama Sulawesi (Sulawesi minland), Babyrousa babyrussa togeanensis terdapat di Kepulauan Togean, dan Babyrousa babyrussa bolabatuensis, yang dinyatakan sudah punah. Groves (2001) dan Meijaard dan Groves (2002) telah mengusulkan keempat subspesies tersebut menjadi spesies yang berbeda. Karena itu, perlindungan terhadap tiga spesies babirusa yang mewakili keragaman morfologi, ekologi dan genetik menjadi dasar dalam konservasi babirusa di habitat alaminya.
Salah satu ciri penting dari babirusa adalah jantannya memiliki taring yang tersulut keluar melalui kedua sisi mulutnya dan melingkar ke atas dan melengkung ke belakang. Taring ini berfungsi sebagai senjata. Betina tidak memiliki taring yang tersulut keluar mulut. Warna tubuhnya putih keabu-abuan. Babirusa jantan dan betina dapat dibedakan dengan melihat ada tidaknya taring, karena babirusa betina tidak memiliki taring yang tersulut ke luar dari kedua sisi mulutnya. Ukuran tubuh babirusa jantan juga relatif lebih besar bahkan terlihat lebih besar dari ukuran tubuh babi jenis lainnya. Bentuk tubuh lebih panjang, dengan kaki depan lebih pendek dari kaki belakang.
 Babirusa Jantan dewasa  (Foto:Abdul Haris Mustari)

Babirusa Induk/Betina dewasa dan anak (Foto:Abdul Haris Mustari)


Penyebaran dan Populasi
Babirusa endemik Sulawesi dan beberapa pulau kecil di sekitarnya yaitu Togian, Sula dan Buru. Keberadaan babirusa di dua lokasi yang terakhir diperkirakan melalui introduksi (Groves, 1980). Penyebaran babirusa mengalami penyempitan habitat yang sangat tajam. Sebagai contoh, di Sulawesi bagian utara, satwa ini hanya dapat ditemukan di bagian barat di kawasan TN Bogani-Nani Wartabone dan di SM Nantu-Boliyohuto. Populasi babirusa juga ditemukan di sebelah barat pada hutan-hutan yang masih tersisa di Randangan. Demikian pula di daerah Buol Toli-Toli yang merupakan batas paling barat dari arm Sulawesi.
Di Sulawesi Tengah babirusaa terdapat di TN Lore Lindu, CA Morowali dan di daerah Luwuk dan Balantak. Di Sulawesi Selatan, babirusa dapat dijumpai di bagian utara provinsi ini di kawasan hutan yang berbatasan dengan Sulawesi Tengah. Sedangkan di Sulawesi Tenggara tidak banyak yang diketahui keberadaannya.
Di Kepulauan Togean: babirusa Togean (Babyrousa babyrussa togeanensis) endemik pada empat pulau yaitu Pulau Malenge, Talatakoh, Togean dan Batudaka di Kepulauan Togean Sulawesi Tengah. Sedangkan di Pulau Una-una, Waleako dan Waleabahi belum pernah dilakukan observasi.
Belum ada gambaran menyeluruh mengenai populasi babirusa in-situ. Clayton (1997) menyatakan bahwa populasi babirusa insitu di seluruh Sulawesi tidak lebih dari 5000 ekor. Di SM Nantu, Gorontalo dengan luas 32.000 ha, diperkirakan terdapat 500 ekor babirusa, namun jumlah ini terus menurun karena tingginya tingkat kerusakan hutan dan perburuan (Clayton 1996).
Populasi babirusa dari waktu ke waktu terus menurun baik karena berkurang dan/atau kerusakan habitatnya maupun karena perburuan liar sehingga kelestariannya terus mengalami ancaman yang serius. Secara tradisional babirusa masih sering diburu oleh masyarakat sekitar hutan sebagai sumber protein hewani. Karena populasinya terus menurun IUCN Red List (2008) memasukkan spesies babirusa sebagai berikut: babirusa Pulau Buru (Babyrousa babyrussa babyrussa) vulnerable dengan katagori B1ab(iii); babirusa Togian (Babyrousa babyrussa togeanensis) endangered dengan katagori B1ab(iii,v); C2a(i) ; dan babirusa Sulawesi (Babyrousa babyrussa celebensis) vulnerable dengan katagori A2cd; C1 (IUCN 2010). Di Indonesia, babirusa dilindungi sejak tahun 1931.

Habitat
Habitat babirusa adalah hutan hujan dataran rendah. Satwa ini menyukai kawasan hutan dimana terdapat aliran sungai, sumber air, rawa, dan cerukan-cerukan air yang memungkinkannya mendapatkan air minum dan berkubang. Satwa ini mengunjungi tempat-tempat air dan tempat mengasin (salt-lick) secara teratur untuk mendapatkan garam-garam mineral untuk membantu pencernaannya Clayton (1996).
Habitat babirusa banyak ditemukan di hutan hujan tropis. Dalam pengamatan yang pernah dilakukan di Pulau Buru, diketahui bahwa babirusa sering menempati daerah bukit dan pegunungan batu karang bahkan dengan tebing terjal sekalipun. Babirusa terlihat tidur di atas batu atau tiang-tiang batu yang tersusun secara alamiah, dan tidak pernah ditemukan tidur di atas tumpukan dedaunan. Babirusa sering terlihat mandi di kubangan yang airnya agak bersih dan tidak becek, dan pada musim panas, sering terlihat berendam di sungai.

Makanan
Sebagai herbivora babirusa menyukai makanan berupa dedaunan dari jenis pohon kayu kuning, gondal dan daun meranti yang jatuh. Selain itu babirusa juga menyukai jenis umbi-umbian seperti kilo, tunas globa dan rebung, juga jamur dan buah-buahan seperti mangga. Kadangkala babirusa terlihat suka mengais pohon-pohon tumbang yang telah membusuk, kemungkinan untuk mendapatkan sumber protein hewani berupa ulat atau cacing. Babirusa jarang sekali masuk ke kebun masyarakat untuk mencari makan dan atau merusak tanaman yang ada di dalam kebun. Makanan utama babirusa adalah berbagai jenis buah (frugivorous), namun satwa ini juga mengkonsumsi buah, daun, rumput, bahan-bahan dari satwa (diantaranya daging, ikan, burung dan serangga) dalam jumlah yang kecil (Clayton (1996).

Perilaku dan reproduksi
Babirusa tergolong ke dalam satwa yang pemalu, namun dapat menjadi agresif jika diganggu. Babirusa biasa hidup dalam kelompok kecil dengan seekor pejantan yang paling kuat sebagai pemimpinnya (Clayton 1996). Babirusa juga sering terlihat berjalan sendiri atau dalam kelompok kecil dalam ikatan yang kuat sehingga mampu mempertahankan diri dari predator. Induk babirusa membuat sarang untuk anaknya dari rerumputan. Apabila berjalan dalam kelompok, babirusa selalu mengeluarkan suara yang teratur dan berbalasan, kecil dan panjang, yakni suirii.……… suuuuuiiiriiii.
Babirusa tidak pernah terlihat tidur di atas tumpukan dedaunan. Biasa mandi di kubangan yang airnya agak bersih dan tidak becek. Pada musim panas, sering terlihat berendam di sungai. Kebiasaan berkubang ini dimaksudkan untuk mendapat mineral (menggaram) ataupun binatang-binatang kecil (larva, cacing atau ulat) sebagai sumber protein hewani. Babirusa aktif siang dan malam hari (Clayton 1996). Perilaku babirusa yang sering diamati diantaranya perkelahian sesame babirusa jantan memperebutkan betina, courtship dan penandaan teritori (scent-marking). Clayton menyatakan bahwa taring babirusa jantan berfungsi sebagai alat sex sekunder diapakai oleh individu jantan dalam perkelahian.
Wilayah jelajah babirusa menggunakan minimum convex polygon berkisar 0,8-12,8 km2 (Clayton 1996). Babirusa hidup berkelompok 5-6 ekor, dengan sistem sosial matriarchal, yaitu induk betina merupakan pusat pergerakan kelompok. Sedangkan jantan dewasa hidup soliter, berpasangan hanya ketika musim kawin (Patry et al 1995; Clayton 1996).
Babirusa jantan maupun betina mencapai dewasa kelamin (sexual maturity) pada usia 5-10 bulan, namun ada juga yang melaporkan pada usia sekitar 548 hari, dengan masa hidup maksimum (maximum longevity) mencapai usia 23-24 tahun (Macdonald 2008; Macdonald et al 2008). Jumlah anak yang dilahirkan seekor babirusa betina setiap kali melahirkan (litter size) adalah 1-2 ekor dengan berat anak pada waktu lahir sekitar 0,715 kg (1,573 lbs). Masa kebuntingan berkisar 155 - 158 hari. Lama anak disusui sekitar 1 bulan, namun ada yang melaporkan lama masa anak bersama induknya sampai 213 hari. dan setelah itu anak disapih untuk mencari makanan sendiri di hutan. Seekor induk betina hanya melahirkan satu kali dalam setahun.

Jumat, 21 Mei 2010

Habitat, Populasi dan Perilaku Tarsius (Tarsius tarsier) Di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Sulawesi Selatan

Abdul Haris Mustari dan Iwan Kurniawan
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan IPB, Bogor

                                                                                                                                                
Catatan penulis berikut ini dilakukan pada waktu melakukan ekspedisi Studi Konservasi Lingkungan (Surili) di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul) bersama dengan mahasiswa Kelompok Pemerhati Mamalia (KPM), Himakova KSH Fahutan IPB pada bulan Agustus 2007. Tulisan singkat ini merupakan sebagian dari hasil ekspedisi tersebut.
    
Tarsius tarsier, TN Babul (Foto A.H.Mustari 2007)
Terdapat enam spesies tarsius di Sulawesi, salah satu diantaranya yaitu Tarsius tarsier di TN Babul.  Dengan adanya populasi tarsius di taman nasional yang penunjukan dan penetapannya relatif baru ini menambah arti pentingnya TN Babul sebagai kawasan konservasi karena selain sebagai taman nasional dengan ekosistem karst terluas di Indonesia, juga sebagai gudang biodiversity satwa endemik Wallacea. Dalam bahasa daerah Makassar, tarsius dikenal dengan nama Balau’ Cangke’ (balau=tikus  cangke=duduk) artinya sejenis tikus yang dapat duduk. Oleh penduduk lokal di  sekitar TN Babul, sepintas tarsius menyerupai tikus dan dapat duduk, sambil berpegangan pada batang dan ranting pohon. Tarsius adalah primata yang paling kecil bobot badannya, hanya sekitar 100 g bahkan beberapa jenis tarsius di Sulawesi bobot badannya dibawah 100 g. Ketika melihat tarsius, kesan pertama yang muncul bahwa satwa ini lucu dan menarik. Pupil matanya yang sangat besar dibandingkan dengan ukuran tubuhnya,  meyakinkan bahwa satwa ini aktif malam hari atau nokturnal. Tambahan lagi, tarsius dapat memutar kepala dan lehernya 180 derajat tanpa menggerakkan badannya.


Habitat
Tidak semua kawasan TN Babul terdapat populasi tarsius. Kawasan hutan Pattunuang (dahulunya merupakan Taman Wisata Alam sebelum diintegrasikan menjadi taman nasional) di sepanjang hutan riparian Bisseang Labboro (Bislab) dan Gua Pattunuang, mulai dari HM 1000 sampai HM 2500 termasuk lokasi yang bagus untuk pengamatan tarsius. Karakteristik habitat berupa tebing karst dimana terdapat berbagai jenis tumbuhan karst. Masih termasuk di kawasan Pattunuang ke arah hulu sungai, habitat tarsius yang baik juga terdapat di kawasan hutan yang berbatasan dengan kampung Pute dan Pappang. Kedua lokasi ini merupakan kampung yang paling dekat dengan TN Babul. Tarsius juga dijumpai di kawasan hutan air terjun Bantimurung.
Jenis tumbuhan yang dominan di kawasan hutan Bislap dan Gua Pattunuang diantaranya aren (Arenga pinnata), kenanga (Canangium odoratum), Spathodea campanulata, sukun hutan (Arthocarpus sp.), jabon (Antocephalus cadamba), ewu (Planchonia valida), dan berbagai jenis beringin (Ficus spp.). Sedangkan di blok hutan Pute dan Pappang, habitat tarsius didominasi oleh bambu (Bambusa spp.), terdiri dari beberapa jenis bambu diantaranya bambu duri, bambu biasa, bulo karisa dan tellang. Rumpun bambu digunakan tarsius sebagai tempat tidur dan tempat berlindung (cover), dimana tarsius membangun sarang di bagian bawah rumpun bambu yang cukup rapat dan terlindung dari kemungkinan serangan predator, misalnya ular. Pada saat tidur, tarsius menempati bagian bawah rumpun bambu. Satwa ini keluar dari tempat tidurnya pada pukul 6 sore hari, kemudian mereka mencari makan dan kembali ke tempat tidur/sarang sekitar pukul 5 dinihari. Tempat tidur tarsius dapat diketahui dengan mudah karena ketika keluar dari sarang, tarisus mengeluarkan suara sebagai penanda teritori, dan hal yang sama dilakukan ketika kembali ke sarang pagi hari. Sesekali suara tarsius dapat terdengar ketika mereka sedang mencari makan (foraging), memebritahu keberadaan dari pasangan masing-masing. Selain itu, keberadaan tarsius di suatu pohon atau rumpun bambu dapat diketahui dari bau urinenya yang sangat khas.

Populasi
Dalam survei yang dilakukan pada jalur sepanjang 1,5 km (dilakukan sebanyak 10 kali ulangan sehingga total panjang jalur akumulatif 15 km) mulai dari jembatan dekat Bislap ke Gua Pattunuang (HM 1000-HM 2500), mengikuti aliran sungai ke arah hulu, tercatat sedikitnya 6 kelompok, atau minimal 12 ekor tarsius (2 ekor/kelompok). Sehingga laju perjumpaan (encounter rate) adalah 4 kelompok/km atau 6 kel/1,5 km. Berdasarkan angka ini, seseorang yang berjalan di jalur Pattunuang, dari Bislap ke Gua Pattunuang, akan menemukan 4 kelompok tarsius apabila berjalan sejauh 1 km. 

Sedangkan di blok hutan Pute dan Pappang digunakan metode kuadrat/plot ukuran 50mx50m (2500 m2) untuk menghitung populasi tarsius. Jumlah kuadrat masing-masing tiga kuadrat di Pute dan 1 kuadrat di Pappang, sehingga luas total kuadrat/plot contoh 4x2500m2 (1 ha). Dalam luasan 1 ha tersebut tercatat 3 kelompok tarsius di Pute dan 1 kelompok tarsius di Pappang. Kepadatan kelompok adalah 4 kelompok/ha. Kelompok-kelompok tarsius ditemukan di beberapa rumpun bambu di dalam kuadrat/plot. Berdasarkan pengamatan di lapangan, dalam satu rumpun terdapat 2-8 ekor tarsius yang masih merupakan satu keluarga. Dalam satu plot terdapat rata-rata 18,8 rumpun bambu dari semua jenis, tetapi jenis bambu yang dominan adalah bambu duri.

Perilaku
Seseorang yang masuk ke hutan, lebih sering mendengar suara tarsius daripada melihat satwanya itu sendiri, karena itu hanya beberapa orang yang betul-betul kenal tarsius, apalagi suara satwa ini sepintas seperti suara serangga (nada crit-crit-crit……., berulangkali) atau suara kelelawar kecil yang terbang malam hari. Tarsius aktif mencari makan pada malam hari (nocturnal), makanan utamanya adalah berbagai jenis serangga yang aktif pada malam hari. Selain serangga, tarsius juga makan berbagai jenis reptilia kecil serta burung berukuran kecil dinataranya burung kacamata (Zosterops sp.).

Dalam mencari makan, tarsius mengintai mangsanya, sambil mengendap perlahan, kemudian secara tiba-tiba dengan gerakan yang sangat cepat menyergap mangsanya dengan cara kedua tangan memegang mangsa, dan kedua kaki membantu kedua tangan menekan mangsa, sampai mangsa bisa dikuasai sepenuhnya. Seperti halnya jenis primata lainnya, tarsius dapat menggenggam sempurna mangsanya dengan kedua tangannya secara sempurna karena satwa ini memiliki lima jari tangan dan lima jari kaki. Pada jari kaki tengah, terdapat kuku yang menonjol, seperti gigi agak melengkung yang memudahkan tarsius dalam mencengkram mangsanya. Karena makanan tarsius adalah berbagai jenis serangga, satwa ini tidak dianggap hama oleh petani dan pemilik kebun di sekitar hutan. 

Tarsius hidup berpasangan atau membentuk kelompok kecil dimana dalam satu kelompok hanya terdapat satu ekor jantan dan betina dewasa. Apabila dalam satu kelompok terdapat lebih dari dua individu, maka dapat dipastikan bahwa kelompok tersebut terdiri dari jantan dan betina dewasa serta anak yang sudah beranjak dewasa dan anak yang masih kecil yang masih disapih oleh induknya. Setiap kelompok tarsius memiliki daerah teritori yang jelas, dimana teritori dapat ditandai dengan air seni dan kotorannya serta bau badannya. Teritori dijaga secara ketat dari masuknya kelompok tarsius yang lain, dimana pelanggaran teritori dapat menyebabkan perkelahian antar kelompok.

Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kepala Balai TN Bantimurung-Bulusaraung dan seluruh staf atas bantuannya selama di lapangan. Secara khusus penulis berterima kasih kepada Pak Pado, pemandu di lapangan yang memungkinkan penelitian berjalan lancar.

PERILAKU ANOA (Bovidae: Bubalus spp.)

Abdul Haris Mustari
Department of Forest Resources Conservation, Faculty of Forestry, 
Bogor Agricultural University, Indonesia 
(haris.anoa@yahoo.com)

Pengamatan perilaku anoa baik di alam maupun di kebun binatang dilakukan oleh penulis (AHM) sejak tahun 1994 sampai sekarang. Berikut beberapa perilaku penting anoa.

Pola Aktivitas harian
Anoa menunjukkan pola aktif bi-phasic, dua fase, baik siang maupun malam hari. Pada siang hari, anoa aktif pada pagi hari sekitar pukul 6-9. Pada siang hari pukul 11-15, anoa mengurangi aktivitasnya, berlindung atau istirahat. Satwa ini kembali aktif pada sore hari sekitar pukul 4-6. Pada malam hari anoa menunjukkan intensitas aktivitas yang tinggi pada awal malam dan akhir malam. Pola aktivitas anoa di kebun binatang sesuai dengan di alam, yaitu aktif pada siang dan malam hari (Mustari 1995, 2003).

Makan
Anoa menunjukkan preferensi yang tinggi pada jenis makanan berupa daun daripada buah dan umbi. Namun buah dan umbi juga dimakan tetapi terlebih dahulu makan dedaunan.
Jenis makanan yang biasa diberikan kepada anoa di KB Ragunan yaitu kangkung, kacang panjang, pisang, jambu biji, pepaya, jagung dan ubi jalar. Ketika semua jenis makanan itu diberikan bersamaan, maka kangkung dan kacang panjang dimakan terlebih dahulu, kemudian buah dan umbi (Mustari 1995).

Mandi/berendam
Anoa menyukai tempat berkubang baik untuk mandi maupun sekedar berendam terutama pada saat terik matahari. Di KB Ragunan, anoa diamati berendam sekitar 15 menit, tetapi dalam kesempatan lain, dapat berendam selama 1 jam.
Dalam bak berendam sekitar 40-50 cm. Pada saat berendam air disiramkan ke bagian tubuh yang tidak terkena air menggunakan kepala yang dikibaskan ke arah samping berulangkali sehingga air mengenai tubuhnya. 

Berlindung
Di alam, anoa memiliki tempat berlindung atau berteduh saat matahari terik atau ketika hujan lebat. Di KB Ragunan, anoa banyak menghabiskan waktunya di kandang beratap ketika hujan lebat atau angin kencang disertai petir.

Agonistik
Pada dasarnya anoa adalah satwa pemalu, selalu menghindar dari pertemuan dengan manusia. Namun dalam kondisi tertentu, anoa dapat berperilaku agresif, terutama ketika induk punya anak, musim birahi atau anoa yang terluka. Anoa jantan dan betina yang sudah menempati kandang yang sama cukup lama masih memperlihatkan perilaku agresif satu dengan lainnya. Anoa jantan dan betina saling menanduk.

Posisi Tidur
Pada saat tidur anoa berbaring, kaki depan dan belakang ditekuk, kepala merunduk, kadang bagian mulut menyentuh tanah, leher dilekukkan ke samping kanan, mata tertutup.

Menggosok tanduk
Anoa seringkali dijumpai menggosok tanduk di pohon atau di tanah atau di pagar.

Menjilat dan menggaruk tubuh
Anoa menjilat tubuhnya sendiri dan tubuh pasangannya. Anoa jantan menjilati bagian genital anoa betina, dan sebaliknya anoa betina menjilati genitalia anoa jantan. Perilaku ini juga sering diamati pada saat anoa betina membuang air seni, bahkan air seni yang jatuh ke tanah atau lantai kandang juga dicium oleh anoa jantan. Perilaku saling menjilat tubuh pasangan juga diamati pada saat berbaring istirahat.
Menggaruk bagian kepala dilakukan menggunakan kuku kaki belakang, baik kiri maupun kanan. Selain kuku, ujung tanduk juga digunakan untuk menggaruk bagian tubuh, yang mungkin terasa gatal.

Perilaku lain
Anoa selalu mengibaskan ekornya ke kiri dan ke kanan untuk mengusir serangga dari tubuhnya, dilakukan baik pada waktu makan atau berdiri istirahat.
Perilaku lain yaitu anoa sering menjulurkan lidah ke arah hidung berulang kali. Seperti halnya hewan ungulata umumnya, bagian depan hidung senantiasa basah oleh kelenjar yang dikeluarkannya sendiri.


References

Mustari, AH. 1995. Population and behaviour of lowland (Bubalus depressicornis) in Tanjung Amolengo Wildlife Reserve, Southeast Sulawesi, Indonesia. MSc. Thesis, University of Gottingen, Germany.

Mustari, AH. 2003. Ecology and conservation of lowland anoa (Bubalus depressicornis) in Sulawesi, Indonesia. PhD Thesis, University of New England, Australia.

Anoa (Bubalus spp.) Food Plants in Tanjung Peropa Wildlife Reserve, Southeast Sulawesi

Abdul Haris Mustari

Department of Forest Resources Conservation, Faculty of Forestry,
Bogor Agricultural University, Indonesia
(haris.anoa@yahoo.com)


SUMMARY

A total of 46 species of anoa food plants (leaves and shoots) and two species of fruits that were known to be eaten by the animals in their natural habitat were analyzed using Proximate analysis. Browsing signs of the animals on these plants were observed in the forests, indicating that these food plants were potentially eaten by the animals in the natural habitats. Some of the analysed food plants, such as Merremia peltata, Physalis minima, and bamboos (Schizostachyum lima and cf Schizostachyum brachycladum), were also identified microscopically as the predominant food plants in the diets of the animals.

Percentages of the nutrients in the food plants varied considerably. Percent of crude protein was 5.58 -21.60 (mean 12.70; SD 4.34), while percent of crude fibre varied from 14.68 to 62.68 (mean 36.93; SD 12.07). Percentage of ether extract in the food plants was 0.91-11.5 (mean 2.38; SD 1.75). Percent of nitrogen-free extractives ranges between 0.76 and 52.31 (mean 24.64; SD 15.20), while gross energy of the food plants was 2419-3583 cal/g (mean 3093; SD 282.82). The majority (65%) of the food plants have a percentage of crude protein above 10%.

Merremia peltata, Physalis minima, and bamboos (Schizostachyum lima and cf Schizostachyum brachycladum), which were among the predominant food plants of anoa in Kalobo-Tanjung Peropa WR, did not differ significantly in percentages of their nutritional contents, except that Physalis minima contained a comparatively high proportion of crude protein (20.04%). Merremia which composed about one-third of the proportion of the diets of the animals, has only 11.66% of crude protein and the bamboos Schizostachyum lima and cf Schizostachyum brachycladum had even lower crude protein contents, 10.44% and 6.06% respectively. These bamboos have a high content of crude fibre, 37.54% and 43.07% respectively.

Other inferred food plants that have relatively high percentages of crude protein included Trema orientalis (21.60%), Acalypha boehmerioides (19.82%), and cf Micromelon minutum (19.38%), yet they were not found in the analyzed faecal samples of the animals. Sonneratia alba, a mangrove species, was frequently browsed by lowland anoa in Amolengo and showed the highest percentage of nitrogen-free extractives (52.31%) among the food plants, yet its crude protein content (10.45%) did not significantly differ from those of other food-plant species.

Crude protein and crude fibre contents of the fruits of Diospyros pilosanthera and Eugenia sp. are lower than those of their leaves and shoots, yet higher nitrogen-free-extractives and gross energy suggest that these fruits have higher digestibility and the animals could get instant energy by consuming the fruits.

Rabu, 23 Desember 2009

KONSUMSI HIJAUAN DAN KEBUTUHAN NUTRISI ANOA (Bubalus spp.) DI KEBUN BINATANG RAGUNAN, JAKARTA

Food intake and nutritional  requirement of lowland anoa (Bubalus spp.) in Ragunan Zoo, Jakarta

Oleh

Abdul Haris Mustari dan Burhanudin Mas’ud

Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor
(kontak person: haris.anoa@yahoo.com)

SUMMARY

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahi kebutuhan pakan anoa di KB Ragunan. Penelitian dilakukan dakam periode Agustus 1996 sampai Februari 1997, terhadap tiga individu anoa, masing-masing bernama BUTON (jantan dewasa 56 kg, asal Pulau Buton, tiba di KB Tagunan tahun 1972), MARLENI (betina dewasa 110 kg, berasal dari KB Lampung merupakan pertukaran satwa antar kebun bintang pada 14 April 1994), dan BONE (betina muda umur 2 tahun 45 kg). BONE lahir di KB Ragunan pada tanggal 25 Juni 1995, anak dari pasangan BUTON dan MARLENI. Pengamatan secara teratur yang dilakukan oleh penulis (AHM) menunjukkan, pada bulan Nopember 2009, BONE masih hidup dengan kondisi kesehatan yang cukup baik, sedangkan kedua induknya, BUTON dan MARLENI, sudah mati (komunikasi pribadi dengan pihak KB Ragunan).

Berdasarkan jumlah kromosom yang dimiliki, ketiga individu anoa tersebut menunjukkan anoa gunung, Bubalus quarlesi, dimana BUTON memiliki kromosom 2n=46, MARLENI memiliki kromosom 2n=38, dan BONE memiliki jumlah kromosom 2n=42 (Pranadewi 1998). Secara morfologi MARLENI menunjukkan ciri anoa dataran rendah, Bubalus depressicornis, yaitu rambut warna hitam, dan pada pangkal tanduk terdapat cincin atau wrinkle (Mustari dan Mas’ud 1997), tetapi penelitian genetik yang dilakukan oleh Pranadewi (1998) justru menunjukkan jumlah kromosom yang tidak biasa, bahkan untuk anoa gunung sekalipun, yaitu 2n=38.

BONE pada umur 12 tahun (Foto:A.Haris Mustari 2007)

Dua jenis hijauan pakan diberikan kepada ketiga anoa tersebut selama dilakukan penelitian yaitu (1) rumput gajah Pennisetum purpureum dan (2) hijauan campuran terdiri dari rumput gajah Pennisetum purpureum, rumput papaitan Cyrtococcum patens, akar-akaran Mikania cordata dan pacingan Costus speciosus, dengan komposisi jenis masing-masing sebanyak 25%. Pertimbangan memilih keempat jenis hijauan tersebut karena keempatnya disukai anoa dan sudah biasa diberikan oleh pengelola (keeper) kepada anoa. Selain itu, jenis-jenis hijauan pakan tersebut tumbuh melimpah di KB Ragunan dan sekitarnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi hijauan anoa per hari untuk hijauan tunggal (rumput gajah) berkisar 4,69-7,03 kg (rata-rata 5,98 kg). Sedangkan untuk hijauan campuran relative lebih tinggi yaitu 6,74-10,33 kg (rata-rata 8,12 kg). Persentase rataan jumlah konsumsi makanan terhadap berat badan anoa tersebut berkisar 8,34-11,54%.

POPULATION DENSITY, DISTRIBUTION AND SOCIALITY OF LOWLAND ANOA AND SYMPATRIC UNGULATES

Abdul Haris Mustari (1), Peter Jarman (2)

  1. Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism, Faculty of Forestry, Bogor Agricultural University, Bogor, Indonesia (haris.anoa@yahoo.com)
  2. Division of Ecosystem Management, University of New England, Armidale, NSW, Australia
SUMMARY

Population density of lowland anoas was estimated using direct and indirect observations. Of the direct observations, 20 and 10 sightings of anoas were made during the 372 and 124.3 km of transects walked in Tanjung Peropa and Tanjung Amolengo reserves, respectively. Sightings were made in all forest types. For indirect observations, densities of the dung of the animals and their calculated defecation rates were used to determine habitat occupancy in each of the habitat types occupied by lowland anoas, which were shown to include riverine, bamboo, lowland and rocky-lowland forest, and forests at higher altitude up to 900 m asl in Tanjung Peropa and mangrove, beach and lowland forests in Tanjung Amolengo, indicating that lowland anoas occupy a wide range of habitats (indeed, they occur in all the natural forested habitats studied). They could be found in the mangrove forest during low tides and they could also be observed in the mountainous forests at the peak of the reserve. This study revealed that habitat occupancies of the anoas were slightly higher in the riverine, bamboo and lowland forests than in the rocky-lowland forest in Tanjung Peropa whereas the animals spent more time in the beach forest than the lowland forest in Tanjung Amolengo. The lowland anoas significantly avoid forests near to settlement and roads. Anoas are water-dependent animals; they need water every day for drinking and they frequently visited water holes and wallowing sites. Distribution of anoa is significantly associated with water sources during the dry season.

Anoas adopt solitary behaviour (average 1.2 animals/group or per sightings; n = 38 detections, S.D. 0.41); they were mostly found singly or in pairs and were very rare as three animals in a group. Young anoas accompany their mother until the next calf is born, and in some cases longer.

Rabu, 09 Desember 2009

Mengenal Anoa, Sapi Cebol dari Sulawesi

Abdul Haris Mustari
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan IPB, Bogor (haris.anoa@yahoo.com)

Beberapa nama lokal anoa

Anoa, sejenis sapi kerdil yang hidup di hutan tropis Sulawesi. Mustari (1995, 2003) menyatakan bahwa penduduk di Sulawesi menyebut anoa dengan nama yang berbeda-beda sesuai dengan etnis yang ada. Di Minahasa dan sekitarnya anoa disebut Buulu Tutu, Bandogo Tutu dan di Gorontalo disebut Sapi Utan, Dangko atau Langkau. Di bagian tengah Sulawesi Suku Kaili menyebutnya Nuua dan di Dampelas disebut Baulu. Etnis Kulawi di dataran tinggi Sulawesi Tengah menamainya Lupu, dan di Buol Toli-Toli anoa dinamai Bukuya. Di bagian tenggara Sulawesi, dalam bahasa daerah Tolaki, anoa dikenal dengan nama Kadue. Bahkan suku Tolaki dalam bahasa daerahnya dapat membedakan dua jenis anoa yaitu Kadue meeto (meeto artinya hitam)untuk anoa yang warnanya hitam atau anoa dataran rendah dan Kadue wosula (wosu berarti gunung) untuk anoa yang warnanya coklat kemerahan atau anoa gunung (Mustari 2003) Di daerah Malili termasuk sekitar Danau Matano penduduk menyebut anoa dengan nama Anuang. Dalam bahasa Indonesia, satwa ini dikenal dengan nama anoa, namun ada juga yang menyebutnya sapi hutan atau sapi cebol (Mustari 2003).


Gambar 1. Anoa dataran rendah, jantan dewasa di KB Ragunan (Foto: A.Haris Mustari, tahun 1997)

 Gambar 2. Anoa gunung, betina muda, berasal dari hutan di sekitar Danau Towuti-Luwu Timur, Sulawesi     Selatan (Foto: A.Haris Mustari, tahun 2007).
Berapa spesies anoa?

Meskipun disebut sapi cebol, secara sistematika, anoa dimasukkan dalam marga kerbau, Bubalus, anak marga Anoa, bukan dalam marga sapi, Bos. Bahkan ada ahli yang mengklasifikasikan anoa dalam marga tersendiri yaitu Anoa. Sistem klasifikasi yang lebih banyak dijadikan rujukan saat ini adalah yang ditulis oleh Groves (1969) dimana anoa terdiri dari dua spesies anoa yaitu anoa dataran rendah Bubalus (Anoa) depressicornis dan anoa gunung Bubalus (Anoa) quarlesi. Anoa termasuk marga kerbau Bubalus, sedangkan Anoa dianggap sebagai anak marga.

Jumat, 20 November 2009

CONSERVATION AND MANAGEMENT RECOMMENDATIONS FOR LOWLAND ANOA (Bubalus depressicornis) IN SULAWESI

Abdul Haris Mustari(1), Peter Jarman(2)

(1) Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism, Faculty of Forestry, Bogor Agricultural University, PO Box 168, Bogor 16001, E-mail: haris.anoa@yahoo.com (2) Division of Ecosystem Management, University of New England, Armidale, NSW, Australia

ABSTRACT

Conservation issues related to anoas include illegal hunting, illegal logging and cutting of trees, rattan collecting and forest encroachment. Management recommendations should aim to conserve anoas in their natural habitats. This in-situ conservation will benefit not only the target species or genus but also all species of wildlife inhabiting the same rain forest. Gazetting areas of remaining suitable habitats of anoas is needed, particularly areas of lowland rain forests that have the highest pressure from people’s activities, such as converting the forests into settlements and plantations or others anthropogenic environments. Stricter law enforcement should be imposed and the Indonesian Environmental Act (Republik Indonesia 1990) should be applied in order to stop illegal hunting and illegal logging; the authorities should apply the law and punish people or groups convicted of breaking the law. Increasing awareness of the people is one of the keys for conserving the endemic species and their habitats. Anoa in Tanjung Amolengo were only seen more than 1 km from the settlement and roads indicating that the animals avoid forests near this settlement and any anthropogenic environment. Settlement on the boundary of a conserved area will reduce the capacity of that reserve to support anoas. Thus, settlements on the boundary of reserves should be avoided.

Rabu, 18 November 2009

Karakteristik Habitat Anoa

Abdul Haris Mustari
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB, Kampus IPB Dramaga, Bogor.Email:haris.anoa@yahoo.com

Anoa sangat peka akan gangguan manusia. Gangguan yang sedikit saja terhadap habitatnya menyebabkan satwa ini menghindar mencari tempat yang lebih aman. Karena itu anoa mendiami habitat yang jauh dari pemukiman dan aktivitas manusia, dan itu adalah hutan yang memiliki aksesibilitas rendah. Anoa cenderung menghindari kontak langsung dengan manusia dan segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas manusia seperti adanya ternak sapi atau kerbau. Kecuali pada beberapa kawasan hutan dimana anoa tidak punya pilihan untuk menghindar karena habitatnya terisolir, anoa dapat saja mendatangi areal perkebunan yang berbatasan dengan hutan atau kawasan konservasi.

Seiring pertambahan penduduk dan terbukanya akses oleh berbagai kegiatan seperti pemukiman, transmigrasi, perkebunan dan pertambangan, habitat anoa yang dahulunya sulit terjangkau, aksesnya semakin terbuka, akibatnya habitat satwa ini semakin berkurang dan terkotak-kotak yang pada akhirnya menyebabkan populasinya menurun. Banyak kawasan hutan yang dahulunya dikenal sebagai habitat anoa tidak lagi dijumpai satwa tersebut seperti yang terjadi di CA Tangkoko Batuangus di Bitung Sulawesi Utara, anoa punah secara lokal. Habitat anoa terfragmentasi, populasi kecil terisolir sehingga diantara individu tidak terjadi perkawinan dan pertukaran genetik yang pada gilirannya akan membawa masalah serius inbreeding, perkawinan antar kerabat dekat yang mana akan menyebabkan terjadinya erosi genetik seperti yang terjadi pada kawasan hutan yang relatif sempit misalnya SM Tanjung Amolengo dan CA Lamedai di Sulawesi Tenggara dan banyak kawasan hutan lainnya yang dihuni anoa telah terfragmentasi seperti ini.

Sebagai ungulata penghuni hutan sejati, anoa membutuhkan tempat mencari makan, minum, berlindung serta melakukan interaksi sosial berupa hutan primer yaitu hutan yang belum terjamah manusia; mulai dari hutan pantai, hutan rawa, hutan dataran rendah, dan hutan pegunungan. Semakin jauh kawasan hutan dari lingkungan manusia semakin disukai anoa sebagai habitat. Hal ini terkait dengan naluri dasar anoa sebagai satwa yang sangat peka yang telah beradaptasi selama jutaan tahun di hutan alam Sulawesi, jauh sebelum manusia pertama menginjakkan kaki di pulau ini. Secara umum anoa dataran rendah ditemukan mulai dari hutan pantai sampai hutan pada ketinggian sekitar 1000 m dpl, dengan kisaran suhu udara harian 22-27 derajat celcius. Anoa dataran rendah menyukai hutan di sepanjang aliran sungai yang disebut hutan riparian. Demikian pula hutan bambu sangat disukai anoa. Sedangkan hutan dengan karakteristik berbatu dan bertebing curam dimana banyak terdapat formasi gua bebatuan limestone juga dapat dijadikan anoa sebagai habitat, namun dengan tingkat okupansi yang lebih rendah.

Senin, 16 November 2009

POPULASI ANOA DI SM TANJUNG AMOLENGO, SULAWESI TENGGARA TIDAK LEBIH 10 EKOR

Dr.Ir Abdul Haris Mustari, M.Sc.F
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan IPB Kampus IPB Dramaga, Bogor (haris.anoa@yahoo.com)

Anoa, Satwa endemik Sulawesi populasinya makin terancam. Satwa ini tercatat dalam Apendix I CITES dan termasuk “Endangered Species” IUCN Red Data Book. SM Tanjung Amolengo terletak di ujung selatan daratan utama Sulawesi Tenggara, populasi anoanya kian menyusut mendekati kepunahan. Hasil penelitian penulis dalam kurung delapan tahun terakhir sejak tahun 1994 bahwa anoa akan mengalami kepunahan lokal di Tanjung Amolengo, padahal kawasan konservasi ini dikenal sebagai salah satu habitat utama satwa langka ini di SulawesiTenggara, bahkan Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis) menjadi maskot fauna propinsi ini.

Tahun 1994 s/d 1995, penulis melakukan riset selama 8 bulan secara berkelanjutan mengenai populasi dan perilaku anoa di Tj Amolengo dan waktu itu hanya mencatat 8-12 ekor anoa di hutan ini dengan menggunakan berbagai metode yang sering dipakai dalam survey populasi satwaliar yaitu Metode Transect (pertemuan langsung dan penghitungan kepadatan feses anoa/Distance Sampling), Metode Konsentrasi /Silent Detection, dan Metode Jejak (foot-print analysis).

Tahun 2000 s/d 2003, penulis kembali melakukan penelitian di dua lokasi yaitu SM Amolengo (604 ha) dan SM Peropa (38 927 ha) dan mencatat populasi anoa yang lebih rendah lagi di Amolengo, hanya sekitar 5-6 ekor. Sedangkan di Tanjung Peropa, populasi anoa masih cukup baik, kepadatannya 0.9 ekor/km2, dengan perkiraan jumlah individu sebanyak 350 ekor.

Kedua suaka margasatwa tersebut hanya berjarak sekitar 2-3 km, dipisahkan oleh desa Amolengo, Langgapulu dan Ampera. Sekitar sepuluh tahun lalu, populasi anoa dari kedua suaka margasatwa itu masih bisa saling bertukar melalui koridor berupa hutan pinggiran sungai, riverine forest, perkebunan jambu mete, coklat dan kelapa, khususnya di bagian selatan Tanjung Peropa. Namun dengan bertambahnya penduduk dan pemukiman di ketiga desa tersebut, anoa semakin sulit menemukan koridor pelintasan yang memungkinkan pertukaran populasi anoa di kedua suaka margasatwa ini. Anoa di SM Tanjung Amolengo akan mengalami kepunahan lokal atau setidaknya mengalami penurunan kualitas genetik karena populasinya sangat kecil sehingga akan terjadi inbreeding.

Penduduk yang berdomisili di sekitar hutan seringkali over-estimasi terhadap populasi anoa, mereka mengatakan populasi satwa ini di alam masih berlimpah, padahal apabila dicermati dan dilakukan penelitian yang seksama, populasi anoa di alam sebenarnya sangat sedikit. Mereka yang mengatakan anoa masih banyak karena hanya berdasarkan jejak atau kotoran satwa ini di hutan. Perlu diketahui bahwa anoa termasuk satwa soliter, umumnya hanya ditemukan satu ekor, kadang dua ekor dan jarang dijumpai tiga ekor dalam satu kelompok. Lagipula anoa memiliki mobilitas yang tinggi dan wilayah jelajah harian yang luas (lebih 500 ha di Amolengo), sehingga jejak dan kotoran anoa yang kelihatannya melimpah, itu sebenarnya hanya milik beberapa ekor anoa.

Pengalaman penulis di Sulawesi Tenggara menunjukukkan seringkali cerita atau informasi keberadaan anoa dilebih-lebihkan. Sebelum memulai penelitian, penulis menggali informasi dari penduduk sekitar hutan termasuk beberapa pawang anoa. Seorang pawang anoa di Amolengo pada tahun 1994 mengatakan kepada penulis bahwa sedikitnya 200 ekor anoa terdapat di SM Tj Amolengo, namun setelah penulis melakukan penelitian yang cukup lama dan seksama secara berkelanjutan dan dengan menggunakan berbagai metode seperti tersebut di atas, menemukan bahwa anoa di Amolengo tidak lebih sepuluh ekor.

Overestimasi populasi anoa juga sering dilontarkan oleh pejabat berwenang dari instansi kehutanan dan Pemda yang mengatakan masih banyak anoa di daerahnya, sedangkan mereka sendiri belum pernah menjumpai satwa tersebut di habitat alamnya. Data populasi anoa mereka dapatkan dari cerita penduduk dan atas perkiraan saja, bukan data dari suatu penelitian yang dapat dijadikan pegangan. Sebagai gambaran bagaimana langkanya anoa di Sulawesi, Lee (2000) mensurvei transek sepanjang lebih 400 km di Gn Ambang, Sulut dan mencatat hanya satu ekor anoa sedangkan Alvard (2000) menelusuri sekitar 1300 km transek di Hutan Morowali, Sulteng, dan tidak menjumpai satu ekorpun anoa. Sedangkan penulis sendiri dengan panjang keseluruhan jalur 360 km di SM Tj Peropa mencatat sebanyak 20 kali pertemuan dengan anoa pada tahun 2001.

Penyebab utama menurunnya populasi anoa di Sulawesi Tenggara adalah deforestasi dan perburuan liar. Deforestasi terutama terjadi karena konversi hutan primer yang merupakan habitat anoa menjadi lahan perkebunan jambu mete, cacao, serta illegal logging baik di hutan produksi maupun di hutan konservasi sepeti suaka margasatwa, taman nasional, taman wisata alam, juga hutan lindung. Anoa juga sering diburu untuk dimakan dagingnya dan tanduknya dijadikan trophy. Selain anoa, satwa khas Sulawesi lainnya yang terdapat di Tj Amolengo dan Tj Peropa yaitu Babi Hutan Sulawesi (Sus celebensis), Kuskus Beruang (Ailurops ursinus), Kuskus Sulawesi (Strigocuscus celebensis), Rangkong (Rhyticeros cassidix dan Phenelopides exarhatus).